Berbagi Menjadi Berkah Dari Berkah Menjadi Ketahanan Bangsa Bersama Membangun Indonesia Tanpa Kelaparan
Food Bank Indonesia Berbagi Menjadi Berkah
Beranda Tentang Kami Program Laporan Blog Kontak Login Admin Donasi Sekarang

Food Bank Pekalongan Kantongi Komitmen Empat Dapur MBG, 470 Sasaran Prioritas di 27 Kelurahan Bakal Terdistribusi

Tim Redaksi Food Bank 16 July 2026 98 kali dibaca 0 komentar
Food Bank Pekalongan Kantongi Komitmen Empat Dapur MBG, 470 Sasaran Prioritas di 27 Kelurahan Bakal Terdistribusi

Program Food Bank Pekalongan terus menunjukkan perkembangan sejak mulai diujicobakan. Hingga pertengahan Juli 2026, sebanyak 27 kelurahan telah menyerahkan data sekitar 470 keluarga rentan yang diprioritaskan sebagai penerima manfaat, sementara empat dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menyatakan komitmen menyalurkan kelebihan produksi makanan melalui skema tersebut.

Penggagas Food Bank Pekalongan, Prof. Dr. Ahmad Subagyo, mengatakan perkembangan tersebut menjadi modal sosial yang positif untuk memperluas jangkauan program penyaluran makanan layak konsumsi kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Yang paling menggembirakan adalah semangat warga untuk menjadi relawan. Sekarang sudah ada 27 kelurahan yang mengidentifikasi dan menyampaikan data penerima manfaat. Terkumpul sekitar 470 keluarga yang memang membutuhkan bantuan pangan,” katanya kepada kanalplus.id usai penandatanganan komitmen, Sabtu (11/7/2026).

Selain bertambahnya data calon penerima manfaat, Ahmad menyebut kini telah ada empat dapur SPPG yang menyatakan kesediaan menjadi mitra Food Bank. Meski baru satu dapur yang hadir dalam penandatanganan komitmen, ia menegaskan dapur-dapur lainnya selama ini telah mulai menyalurkan kelebihan makanan melalui Food Bank.

“Hari ini memang baru satu SPPG yang hadir. Tetapi empat dapur sudah berkomitmen. Bahkan tanpa penandatanganan formal pun mereka selama ini sudah berbagi melalui Food Bank. Itu menunjukkan ada kemauan bersama untuk membantu masyarakat,” ujarnya.

 

Menurut Ahmad, keberadaan Food Bank menjadi solusi bagi berbagai pihak. Di satu sisi, program ini membantu pemerintah memperkuat ketahanan pangan bagi masyarakat miskin dan rentan. Di sisi lain, Food Bank menjadi saluran yang akuntabel bagi dapur MBG untuk mendistribusikan kelebihan produksi makanan yang tidak dapat dikonsumsi oleh pengelola dapur maupun relawan.

“Nah, di sinilah Food Bank memberikan solusi. Kelebihan pasokan makanan bisa diterima, dicatat lalu disalurkan kepada mereka yang berhak dengan akuntabilitas, transparansi dan penuh pertanggungjawaban,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, dalam waktu dekat Food Bank juga akan difasilitasi pemerintah untuk berdialog dengan organisasi perangkat daerah, Baznas dan para pengelola dapur MBG guna menyamakan persepsi mengenai mekanisme penyaluran bantuan pangan tersebut.

“Kami optimistis karena budaya gotong royong masyarakat Pekalongan masih sangat kuat. Mudah-mudahan pekan depan ada pertemuan bersama sehingga semua pihak memiliki pemahaman yang sama dan Food Bank benar-benar menjadi solusi bersama,” paparnya.

Sementara itu, pemilik salah satu SPPG sekaligus pengelola katering sehat, Lutfiyati Hasinah, menyatakan pihaknya mantap bekerja sama dengan Food Bank karena memiliki visi yang sama dalam mengurangi pemborosan pangan sekaligus membantu masyarakat yang membutuhkan.

 

“Saya sangat senang dengan gagasan Food Bank. Kelebihan produksi yang masih sangat layak dan berkualitas bisa dimanfaatkan untuk disalurkan kepada pihak-pihak yang membutuhkan,” terangnya.

Menurut Lutfiyati, profesionalisme Food Bank menjadi salah satu alasan utama pihaknya menjalin kerja sama. Seluruh proses penyaluran dilakukan dengan pencatatan yang jelas sehingga setiap donasi dapat dipertanggungjawabkan.

“Kami merasa terbantu karena Food Bank adalah lembaga yang profesional. Penyaluran kelebihan produksi menjadi tercatat, transparan, dan memiliki SOP yang baik,” bebernya.

Ia menjelaskan, pada dasarnya dapur MBG berupaya meminimalkan sisa makanan. Namun dalam kondisi tertentu tetap terdapat makanan cadangan (buffering) yang masih layak konsumsi. Sebelum ada kerja sama, kelebihan makanan tersebut umumnya dimanfaatkan untuk relawan internal. Kini, melalui Food Bank, makanan tersebut dapat disalurkan lebih luas kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

“Kalau ada pihak di luar yang sangat membutuhkan dan belum terjangkau, tentu kami lebih senang jika makanan itu bisa dimanfaatkan. Kebermanfaatan bagi masyarakat menjadi prioritas,” tuturnya.

 

Penulis
Tim Redaksi Food Bank
Tim Food Bank Indonesia

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Komentar akan ditampilkan setelah mendapat persetujuan dari admin.