PEKALONGAN — Gerakan Food Bank Indonesia (FBI)
di Kota Pekalongan memasuki babak baru. Setelah uji coba operasional dan
beroperasi sejak 25 Mei 2026, gerakan pemanfaatan sisa makanan layak saji untuk
masyarakat rentan ini kini memperluas jangkauan secara signifikan.
Dari semula hanya satu titik dapur, kini bertambah menjadi tiga dapur. Antusiasme relawan pun melonjak: dari 12 orang di awal, kini telah terdaftar 27 relawan yang berasal dari berbagai kelurahan di Kota Pekalongan.
Audiensi ke Pemerintah Kota Pekalongan
Pada Senin, 8 Juni 2026, pengurus FBI
Pekalongan beraudiensi ke Pemerintah Kota Pekalongan. Rombongan diterima
langsung oleh Wakil Wali Kota Pekalongan, Ibu Balqis Diab, di kantor wali kota.
Audiensi turut dihadiri oleh Ketua BAZNAS Kota
Pekalongan, Bapak Sakdullah, sebagai mitra strategis dalam gerakan sosial dan
filantropi di kota tersebut.
Dalam pertemuan itu, Wakil Wali Kota
Pekalongan menyatakan dukungannya terhadap gerakan food bank. Beliau
menilai inisiatif ini sebagai niat mulia yang patut diapresiasi karena
mengusung semangat kepedulian sosial — saling membantu sesama warga, khususnya
kelompok masyarakat rentan di Kota Pekalongan.
"Food Bank Indonesia merupakan gerakan
dengan niat mulia. Pemerintah Kota Pekalongan memberikan dukungan penuh agar
gerakan ini dapat berkembang dan menyentuh lebih banyak warga yang
membutuhkan,” papar Balqis Diab.
Laporan Penggagas: Sejak 25 Mei 2026, Ratusan
Penerima Manfaat
Pada kesempatan audiensi tersebut, penggagas FBI Pekalongan yang juga Ketua Pembina Yayasan Kemandirian Perkoperasian Indonesia (YAKKIN), Prof. Dr. Ahmad Subagyo, menyampaikan laporan perkembangan kegiatan FBI.
Sejak uji coba berjalan 25 Mei 2026, FBI Pekalongan telah menyalurkan makanan layak saji kepada ratusan penerima manfaat dari berbagai kelompok masyarakat rentan.
Penerima manfaat awal mencakup masyarakat
pekerja informal — pengemudi ojek daring (ojol), tukang becak, dan petugas
kebersihan jalan — serta penghuni rumah lansia dan Rumah Pelayanan Sosial Bina
Mandiri (RPSBM).
Operasional gerakan ini disokong oleh 12
relawan awal yang kini telah berkembang menjadi 27 relawan. Sekretariat FBI
Pekalongan berkedudukan di Rumah Koperasi, Jalan KH. Husni Thamrin No. 72,
Kelurahan Pringrejo, Kota Pekalongan.
"Kami berharap masyarakat dapat menerima
food bank ini dengan baik. Gagasan mulia ini kami harapkan dapat menyebar ke
seluruh Indonesia — memanfaatkan kelebihan makanan, termasuk dari dapur-dapur
Program Makan Bergizi Gratis (MBG), agar tidak terbuang sia-sia, melainkan
dapat dinikmati saudara-saudara kita yang membutuhkan," papar Prof. Dr. Ahmad
Subagyo, Penggagas FBI Pekalongan & Ketua Pembina YAKKIN
Tiga Dapur, 27 Relawan, dan Pasokan Donatur
yang Terus Bertumbuh
Memasuki bulan kedua operasional, kapasitas
FBI Pekalongan meningkat tajam pada tiga aspek utama: titik dapur produksi,
jumlah relawan, dan basis donatur sumber pasokan.
Dari satu titik dapur saat peluncuran, kini
sudah beroperasi tiga dapur untuk memproses dan mendistribusikan kelebihan
makanan layak saji.
Antusiasme warga untuk menjadi relawan juga
tumbuh pesat. Jumlah relawan terdaftar bertambah dari 12 menjadi 27 orang,
dengan keterwakilan dari hampir setiap kelurahan di Kota Pekalongan. Demikian
pula daftar donatur penyumbang pasokan makanan — baik dari restoran, katering,
hotel, maupun perorangan — terus bertambah seiring meluasnya pemberitaan dan
pengenalan gerakan ini di tengah masyarakat.
Target Bulan Ini: Pendataan Enam Kategori
Sasaran Utama
Sebagai langkah konsolidasi, FBI Pekalongan
menargetkan agar pada bulan Juni 2026 ini basis data sasaran penerima manfaat
sudah terdokumentasi dengan baik. Sasaran utama mencakup enam kategori kelompok
masyarakat rentan, yaitu
Dengan basis data yang akurat dan terkini,
distribusi makanan layak saji akan lebih tepat sasaran, terukur, dan dapat
dipertanggungjawabkan kepada para donatur maupun mitra strategis seperti BAZNAS
Kota Pekalongan.
Urgensi Nasional: Memanfaatkan Kelebihan Dapur
Makan Bergizi Gratis
Dalam pemaparannya, Prof. Subagyo turut
menyoroti urgensi gerakan food bank pada skala nasional. Salah satu peluang
strategis yang ia kemukakan adalah pemanfaatan kelebihan makanan dari
dapur-dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini beroperasi di berbagai
daerah di Indonesia.
Kelebihan produksi makanan layak saji dari
dapur MBG, apabila tidak dikelola dengan baik, berpotensi terbuang sia-sia.
Padahal, melalui jaringan food bank, makanan tersebut dapat
dialihkan secara cepat dan higienis kepada kelompok masyarakat rentan yang
justru berada di luar cakupan sasaran utama MBG.
Sinergi antara program negara dan gerakan
filantropi masyarakat sipil ini dipandang sebagai praktik baik yang patut
diperluas secara nasional.
Mengundang Partisipasi Warga dan Replikasi di
Daerah Lain
FBI Pekalongan membuka pintu seluas-luasnya
bagi warga yang ingin terlibat sebagai relawan, donatur pasokan makanan, maupun
mitra penyalur ke kantong-kantong masyarakat rentan.
Sekretariat FBI Pekalongan berkedudukan di
Rumah Koperasi, Jalan KH. Husni Thamrin No. 72, Kelurahan Pringrejo, Kota
Pekalongan.
Inisiatif Pekalongan ini diharapkan menjadi
model replikasi bagi kota dan kabupaten lain di Indonesia — sebuah ikhtiar
gotong royong berbasis koperasi dan komunitas untuk mengatasi paradoks
kerentanan pangan: di satu sisi makanan terbuang, di sisi lain saudara kita
masih kelaparan. (*)